PPDB 2019 memakai zonasi, apakah masih perlu belajar ? (Jilid 1)

Jakarta: Pemerintah dalam beberapa tahun terakhir terus menerapkan sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB) dengan menganut sistem zonasi. Memang, penerapan PPDB sistem Zonasi ini masih diterpa penolakan dari beberapa pihak. Beberapa siswa serta orang tua masih mengeluhkan sistem ini, terlebih lagi bagi mereka yang tempat tinggalnya jauh dari sekolah yang dianggap favorit, banyak yang tidak terima karena jarak menjadi alasan kegagalan mereka masuk ke sekolah favorit. Begitupun sekolah-sekolah favorit menganggap sistem zonasi ini akan membuat siswa tak akan lagi semangat untuk belajar

Kemudian, apa dampak PPDB sistem Zonasi ini terhadap minat belajar siswa ? untuk menjawab pertanyaan tersebut diperlukan telaah khusus terhadap PPDB sistem Zonasi.

1. Banyak orang tua berpendapat: “PPDB memakai sistem zonasi, anak kita tidak pelu belajar”.

Salah satu problematika yang ada di benak orang tua adalah tidak perlu belajar lagi, karena PPDB memakai sistem zonasi. Menurut Pemerhati pendidikan dari Universitas Multimedia Nusantara Doni Koesoema A, menangkal laporan para orang tua yang berkomentar agar anaknya tidak perlu belajar pintar karena nilai tidak lagi menentukan dirinya diterima masuk sekolah unggulan. Hal seperti itu, menurut Doni, pemikiran salah karena sistem PPDB untuk SMP memiliki tiga jalur masuk, yakni zonasi 90%, anak berprestasi 5%, dan jalur perpindahan orangtua atau wali murid 5%. Menurut Doni “Itu pemikiran keliru, karena anak pintar bisa masuk lewat jalur prestasi (PPDB SMP)” katanya.

Hal ini juga telah diterapkan oleh LBB SPQ, bahwa anak yang nilainya bagus tetap bisa masuk SMPN yang favorit meskipun jaraknya jauh, berikut bukti PPDB SMP yang telah kami lakukan:

CONTOH PPDB SMP

Pada gambar 1 di atas telah dibuktikan bawa siswa Wahyu pada pilihan 1 bejarak 2.854 meter dan pilihan 2 berjarak 1.052 meter. Menurut jarak zonasi, jarak tersebut terlalu jauh, akan tetapi Wahyu tetap diterima di SMPN pilihan ke 1 SMPN 1 TAMAN (lihat gambar 2).

Pada gambar 3 di atas telah dibuktikan bawa siswi Athilla pada pilihan 1 bejarak 3.021 meter dan pilihan 2 berjarak 3.604 meter. Menurut jarak zonasi, jarak tersebut terlalu jauh, akan tetapi Athilla tetap diterima di SMPN pilihan ke 1 SMPN 1 WARU (lihat gambar 4).

2. Banyak orang tua dan siswa berpendapat: “Untuk apa belajar susah-susah dan buang biaya banyak untuk LBB sana sini, jika nilai UN tidak dipakai”.

Problematika selanjutnya yang ada di benak orang tua dan anak adalah tidak perlu belajar susah-susah lagi dan ikut LBB, karena PPDB memakai sistem zonasi dan nilai UN tidak dipakai. 

Ada kekhawatiran orang tua, anaknya tidak tertampung di sekolah yang ada di zonanya serta minimnya informasi terkait dengan tata cara pendaftaran sekolah tersebut. Bahkan sejumlah warganet mengeluhkan PPDB berbasis zonasi yang diterapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan karena tidak mempertimbangkan hasil Ujian Nasional (UN).

“Ya, terus buat apa UN diadakan pak ? Tahu gitu tidak usah ikut bimbingan belajar sana-sini, Pak, terbuang sia-sia uang orang tua saya,” tulis akun Instagram @qonitafadiyah di laman Instagram Kemendikbud, @kemdikbud.ri.

“Kami minta kepada orang tua dan siswa agar behati-hati dalam memahami sistem pendidikan PPDB tahun 2019, jika tidak, maka akan menyesal. mengapa demikian ?”.

Menanggapi keluhan itu, Doni mengatakan orang tua hendaknya memilih sekolah yang memang sesuai dan tepat dengan minat dan bakat anak. “Banyak siswa yang sekolah di unggulan dan karena anaknya tetap ikut bimbingan belajar toh,” katanya.

Doni juga menangkal laporan para orang tua yang berkomentar agar anaknya tidak perlu belajar pintar karena nilai tidak lagi menentukan dirinya diterima masuk sekolah unggulan. Hal seperti itu, menurut Doni, pemikiran salah karena sistem PPDB 2019 memiliki banyak jalur masuk. “Itu pemikiran keliru, karena anak pintar bisa masuk lewat jalur prestasi dan jalur Nilai UN (untuk PPDB SMA),” katanya.

Hal ini juga telah diterapkan oleh LBB SPQ, bahwa anak yang nilainya bagus tetap bisa masuk SMAN yang favorit meskipun jaraknya jauh, berikut bukti PPDB SMA yang telah kami lakukan:

CONTOH PPDB SMA

Pada gambar 1 di atas telah dibuktikan bawa siswa SPQ Bagus Rico (Rico) pada SMA pilihan 1 bejarak 7.910 meter dan SMA pilihan 2 berjarak 4.794 meter. Menurut jarak zonasi, jarak tersebut terlalu jauh dan pasti tidak akan diterima, akan tetapi Bagus Rico tetap diterima di SMAN pilihan ke 1 yaitu SMAN 1 SIDOARJO berdasarkan kategori Nilai UN (lihat gambar ke 2).

Hal tersebut juga sama dengan siswi SPQ Tri Surya Febriyani (Febri) pada SMA pilihan 1 bejarak 4.400 meter dan SMA pilihan 2 berjarak 5.340 meter (lihat gambar ke 3). Menurut jarak zonasi, jarak tersebut terlalu jauh dan pasti tidak akan diterima, akan tetapi Tri Surya Febriyani (Febri) tetap diterima di SMAN pilihan ke 1 yaitu SMAN 1 WARU berdasarkan kategori Nilai UN (lihat gambar ke 4).

  

Sumber: Medcom.id

https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/pengamat:pemahaman-masyarakat-minim

Share on facebook
Facebook
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on google
Google+